“ika telinga kanannya kenapa?”
“lah kok telinganya cuman satu?”
Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul ketika ika masih kecil. Ika kecil hanya menjawab “gak papa kok, nanti kalo udah besar telinga kanannya tumbuh”
Ika kecil sering menggunakan telinga istimewanya menjadi patokan arah, kiri dan kanan, itu sangat membatu, tetapi tidak dengan yang lain. Dia tidak bisa menggunakan kacamata kerennya dengan lurus, jatuh pasti, dia tidak bisa mendengar suara bisikan jauh, mengucir rambut tanpa ada yang peduli dengan bentuk teling kanannya. Telinganya selalu ditutupi, baik dengan topi kupluk yang kebesaran, atau dengan menggerai rambut keritingnya.
Ika kecil tumbuh menjadi anak yang riang tapi selalu bersedih ketika telinga kecilnya dipertanyakan. Selalu menangis di kamar mandi, selalu menyalahkan diri, kenapa semua orang memiliki telinga dua tetapi dia tidak. Keluar kamar mandi dengan mata sembab, yang selalu diciduk ayah dengan pertanyaan “adek kenapa?” “tadi ika kepleset yah” “yang mana yang sakit ka?” “pantat yah, tapi gak papa” “yaudah sini ayah kusuk”. Ika kecil menjadi seorang pembohong berkat tangisan yang disembunyikannya.
Hingga akhirnya ika duduk dibangku sekolah dasar. Ika yang bersekolah disalah satu SD swasta islam, yang mewajibkan siswanya untuk menggunakan jilbab. Ah, lega rasanya tidak ada yang bertanya. Dan sampai akhirnya pertanyaan baru muncul.
“ika kok sering kali kepalanya dimerengin ke kanan waktu belajar, gk sakit?”
“lah nggak kok, gk mereng mereng kepala ika.”
“iya loh ka, lurusin nnti sakit kepala nya.”
Pertanyaan yang menghantui tiba-tiba, hingga keluar tanpa beban dari mulut “yah, emang ika sukak mereng-mereng kepalanya?” “nggak kok dek” kata ayah dengan wajah yang tak dapat diartikan “lah kata kawan kawan gitu kok yah” “mana ada, orang adek lurus kok kepalanya”
Perlahan-lahan pertanyaan tentang telinga kecilku mulai menghilang, sejak ayah yang menyuruhku untuk berjilbab sejak dini, ayah bilang”ika mulai sekarang pakek jilbab ya, masa ika disekolah pakek jilbab,diluar nggak, gak malu nanti dilihat abuya kalo ika diluar?”. Abuya panggilan akrab para murid terhadap ketua yayasan sekolahnya. Ika kecil pun mulai belajar berjilbab, ya walaupun masih suka memakai celana pendek ketika bermain disekitar halaman rumahnya.
Tumbuh menjadi remaja, dan memiliki banyak teman wanita, pertanyaan tentang telinga kembali muncul, ika remaja sudah kebal dengan pertanyaan seperti itu. Menjawab dengan santai tanpa harus lari ke kamar mandi, menangis sejadi-jadinya. Ika remaja mulai menerima apa yang diberi allah, dengan gumam-an “toh aku masih bisa mendengar, banyak orang diluar sana bahkan sangat sulit untuk mendengar”. Ika remaja mulai belajar bersyukur, berkat telinga kecilnya.
Ika remaja mulai mencari tau, apa yang dideritanya, microtia namanya. Microtia yang terjadi pada 1 dari 8000 – 10000 kelahiran anak. “aku tidak sendiri” gumam ika remaja. Pencarianku tidak hanya sampai situ saja, bahkan ika kecil mencari tahu berapa harga operasi untuk menjadikan telinganya normal. Seketika pencariannya terhenti, ayahnya bekerja bukan hanya untuk dia, ada dua abangnya yg masih sekolah.
Hingga pada suatu hari, setelah ika remaja menjadi ika dewasa, ayahnya becerita bagaimana firasat ayah tentangnya ketika ibu mengandung ika. Ayah yang ketika sholat malam, dan tidur kembali selalu disungguhi dengan bayangan bayi yang cacat, bayi yang tidak memiliki badan yang lengkap. Ayah selalu terbangun, dan berdoa, bukan berdoa agar tidak diberi anak cacat, bukan, kalian salah
Tetapi berdoa, berdoa apabila akhirnya memiliki anak yang tidak sempurna fisiknya, ayah meminta agar diberi petunjuk dari Allah, untuk merawat anak itu dengan baik.
Seketika aku termenung, aku yakin bahkan tidak ada seorang pun orang tua yang menginginkan kecatatan pada anaknya, tetapi aku yakin hanya orang tua hebat yang telaten mengurus anaknya yang lahir dengan istimewa.
Sebelum ika kecil yang suka menyalahkan dirinya, ada orang tua yang memandangnya dengan rasa bersyukur diberi anak yang sehat, walau sedikit berbeda. Ika kecil yang selalu menangis, ada orang tua yang memandangnya memuja memiliki anak cerdas sepertinya. Ketika ika remaja, yang sibuk mencari tahu tentang operasi microtia, ada orang tua yang medoakannya, menjadi anak yang berakhlak mulia.
Ika sekarang udah besar, tidak mempermasalahkan telinganya, baginya itu rejeki untuknya. Mungkin bisa saja ika dengan telinga sempurna, menjadi anak yang senang menngibarkan rambutnya untuk dilihat banyak pihak, mungkin ika akan menjadi anak yang merasa hebat dengan segala yang dimilikinya, menjadi sombong atau membuat orang tua murka.
Ika sekarang udah besar, doakan dia yang berjuang untuk tidak mengecewakan ibu bapaknya, doakan dia menjadi “orang”, doakan dia yang nanti berumur panjang mampu menjadi penyemangat untuk anak anak yang ada diposisi dia. Menjadi beda memang tidak mudah. Ika yang terlihat memiliki fisik yang sempurna, masih berusaha mendengar setajam mungkin.
Ceritanya mungkin flat, si ika hanya berpesan kepada siapapun yang membaca ini, jaga apa yang kalian miliki, termasuk segala organ tubuh yg kalian punya, jangan rusak dia, banyak loh orang diluar sana yang ingin seperti kalian.
Komentar
Posting Komentar